Kehidupan di Apartemen (1) - Tetanggaku
Setelah hampir 3 tahun hidup di lingkungan hunian bertingkat, alias apartemen, saya banyak sekali menemukan hal-hal ajaib.
Aku mulai "menetap" kurang lebih 3 tahun ini, sebelumnya hanya jika unitku ini tidak disewa oleh orang. Awalnya tidak berencana akan menetap di sini, karena masih terpikir akan tinggal di rumah sama mama. Awalnya hanya seminggu 2-3 kali karena sekalian nunggu/jadi tempat singgah setelah mengajar, lama-lama malah nyaman karena dekat dengan tempat kerja dan ngajar. Ketika pulang malam pun tidak akan larut. Kalau dulu selesai ngajar bisa sampai rumah jam 8 malam, karena macet banget. Sejak tinggal di apartemen ini, selesai mengajar jam 18.30, sampai apartemen jam 18.40.
Selama di sini, aku banyak ketemu yang ajaib-ajaib. Mulai dari yang alim hingga yang membagongkan. Hahahaha. Tentunya tidak separah apartemen padat di kawasan kalibata ataupun di deket daanmogot sana. Di sini lebih banyak "keluarga", lebih banyak yang chinese dan menurutku kalau banyak yg chinese ini lebih banyak keluarga daripada yang aneh-aneh, jadi aku merasa lebih "aman", sorry ini bukan rasis, tapi kalau kalian perhatiin pada beberapa hunian bertingkat lainnya, ketika mayoritas chinese, dipastikan untuk hal-hal ajaib akan lebih sedikit. Ini hasil pengamatanku sendiri ya. hehehehe.. dan Alhamdulillah di tempatku pun seperti ini. Banyak keluarga yang tinggal di sini.
Kebetulan juga di lantai tempatku tinggal, baik di wings aku ataupun 2 wings lainnya, mayoritas keluarga. Berisik sih terkadang kalau anak-anak lagi pada keluar unit dan main di lorong, tapi aku gak merasa terganggu kok, justru seneng-seneng aja. Merasa aman. Paling rame keluarga itu di tower sebelah, tower pertama kali apartemen ini dibangun. di towerku juga banyak keluarga tapi non-keluarga juga banyak, yang ajaib-ajaib ya bisa ketemulah. Kalau tower lainnya, lebih ajaib lagi. hahaahahahaha..
Kali ini aku akan cerita tetanggaku dulu ya.
1. Depan kamarku ini adalah keluarga dari china. Aku sih asumsinya bener-bener orang china, bukan chindo. Mereka sehari-hari pakai bahasa china, Bapak-Ibu dan 2 atau 3 anak yang sudah pada dewasa, ada yang kuliah dan bekerja (ini asumsi ku sendiri ya). Luas unitnya sama kayak aku. Kebayangkan ada 5 orang dalam 1 unit gitu. Sekilas dalamnya padat, ada mesin cuci juga, ya dong harus hemat. ada 5 orang, kalau laundry bisa masukin seminggu berapa kali tuh. Mending nyuci sendiri. dan tentunya penuh banget unitnya. Kadang juga keliatan sofa tidur yg lipat, dan terbayang ada anak2 dewasa, kamar cuma 2, yang satu dipakai untuk ibu bapak, artinya satu lagi gak mungkin tidur bareng, karena anak mereka laki-laki dan perempuan. Keluarga ini jangan aku temui di luar, agak tertutup, ya buat apa juga ya bersosialisasi dan keluar. hahahahaha.. Gambaran keluarga ini mirip seperti yang ditv-tv atau film. Keluarga tinggal di rumah susun dan keluarganya banyak. Kalau ngintip sih sumpek liatnya. Tapi mereka nyaman aja kok. Oiya aku sekali nyapa mereka sewaktu gempa bumi beberapa waktu lalu. Hanya itu interaksi kami.
2. Sebelah ku jarang ketemu. Penghuninya ganti-ganti. Ntah sekarang yang menghuni ini yang punya atau penyewa. Feelingku sih saat ini yang nempatin yang punya. Beberapa kali lewat.
3. Sebalahnya lagi ini ganti-ganti terus. Pertama kali aku memutuskan untuk stay di apartemen ini, yang nyewa itu orang africa. Orangnya baik dan ramah. Selalu senyum kalau kami papasan, Dia juga suka mengamati pemandangan dari jendela. Sering papasan deh. Walaupun tidak saling ngobrol tetapi dia cukup ingat dengan kami. Terkadang dia lagi nyapu, ngepel dan beberes unit itu. Beberapa kali mengajak teman-teman senegaranya datang, sebenernya mereka banyak di sini pada saat itu, mencar-mencar unitnya. Aku sering lihat mereka di taman sebelah lagi pada ngumpul. Brutal banget mereka. hahaha. Gede-gede dan kadang aromanya gak enak, apalagi kalau habis pada minum bir. Mereka rata-rata punya cewe. Cewenya semok bener yaampun, banyak yang sekel dan agak aduhai bodynya, Lebih ke padat sih. Semua cewenya setipe, Badannya agak besar padat, semok aduhay, dan bajunya super ketat. Kadang aku mikri "ini cewe-cewenya dijanjiin apa ya sama para lelaki dari africa ini", ya seperti yang kita ketauhi bersama, mereka ke sini juga belum tentu ada uangnya, gak tau pekerjaannya apa, kadang ada yang sebagai penjual narkoba, passpor dan visanya juga gak jelas, kadang diciduk imigrasi, sering banget kan kita lihat di berita "imigran dari africa tercyduk". Nah kadang suka kasian sama perempuan-perempuan ini kalau tertipu. Tapi ya, tetanggaku ini jarang keliatan bawa cewe dan ramah atau gak brutal attitude atau perawakannya. Aku cuma lihat dia kayaknya setahun deh, setelah itu dia dan teman-temannya gak pernah terlihat lagi, bahkan di lingkungan sekitar. Gosipnya sih udah tercium oleh imigrasi. dan biasa mereka pindah-pinda.
- Setelah orang africa yang ramah itu, muncul lah penyewa baru setelah lama kosong itu unit. Penyewanya adalah cabe-cabean. hahahahahaha.. ASLI KESEL BANGET kalau papasan dengan mereka. Bukan karena cabe-cabeannya sih, tapi lebih ke attitudenya aja. Hahahahaha. Kadang suka sembarangan, buang sampah di lorong, berisik banget, di lift juga sembarangan deh. Duh kesel banget gue kalau papasan sama mereka. Kenapa kami nyebut cabe-cabean? Secara fisik, mereka seperti masih kecil/muda, Mungkin usia anak SMU atau baru-baru kuliah, Mereka suka kami lihat ber-3 atau ber-4, 2 perempuan dan 2 lekong (iya emang laki tapi belok). Cara berpakaiannya pun mirip stereotype cabe-cabean, celana pendek banget sampai kantongnya keluar, robet-robet, baju seadanya seminimalis mungkin, makeup tebel, bulu mata cetar tapi gak elegant alias norak, alisnya sulaman gak elegant alias norak, softlense, bibir juga gak enak dipandang, kadang kalau keluar cuma pake hotpants dan cardigan yang ditutupin ke badan ntah lah mereka pakai baju atau cuma bra doang, kadang cuma tengtopan doang juga keluar. hahahaha.. Bukan aku meledek style gini ya, tapi ini jatuhnya jadi norak banget dimereka. Asli deh ini jatuhnya norak, bukannya bagus. Nah kira-kira ilustasi di bawah ini (baik yang karikartur dan foto raditya dika) bener-bener menggambarkan tetangga kami. Persis. Makanya kami sebut cabe-cabean. hahahaha..
Nah yang wow lainnya adalah.. Setiap malam, ya lebih tempatnya hampir setiap malam sih - karena kami (atau aku atau suamiku) suka papasan sama salah satu dari mereka di lobby-, lalu seperti sedang "Menjemput" lelaki dan setiap ketemu di lobby itu, lelakinya selalu berbeda. Jadi lah kami semakin berpikir jauh bahwa "jangan-jangan mereka open BO lagi" hehehehe. Nah asumsi ini akhirnya kami semakin yakin sewaktu aku papasan sama salah satu dari mereka. Aku papasan setelah aku buang sampah, salah satu cabe-cabean itu ngomong "masuk dulu aja kak, ada kamar yang besar di sebelah, santai aja ya kak" -- aku pas denger ini langsung "wadidaw". Berarti bener kan mereka cabe-cabean yang open BO. Ya urusan mereka sih, tapi kadang kelakuan mengganggunya itu loh bikin sebel. Apalagi kalau udah urusan kotor, suka sebel liat sampah yg ditaruh di lorong dan kelakuan berisiknya di lift. Selebihnya sih yasudah lah ya. Mau open BO juga bodo amat. Mereka bertahan setahun deh kayaknya ya, atau kurang. Mungkin mereka risih kali ya, karena di lantai aku itu hampir semuanya keluarga, dan depan unit itu ya Keluarga yang anak-anaknya masih kecil dan berisiknya sampai ke ujung. Apa mereka merasa keganggu kalau anak-anak kecil tersebut sudah mulai berisik dan ibunya marah-marah. Hahahahaha.. Ntah lah. yang jelas aku udah gak liat cabe-cabean itu di sana, tetapi kadang masih suka ketemu di lift ataupun di tower sebelah. Sepertinya mereka hanya pindah unit. hahahahahahahahaha..
Nah selanjutnya penghuni baru lagi.. ini aku jelasin dipostingan berikutnya ya. Sepertinya postingan ini udah terlalu panjang. hihihi..


Comments
Post a Comment